Sejarah Motif Gingham

Sejarah Motif Gingham 3
Gingham adalah motif kotak-kotak yang sering kita temukan pada ragam item fashion. Para desainer menginterpretasikan motif ini secara berbeda ke dalam rancangan mereka untuk kemudian dapat diadaptasikan sesuai kepribadian. Motif kotak-kotak yang tadinya identik dengan taplak meja seakan terpatahkan lewat siluet cantik dan padanan yang menarik.

Banyak negara yang mengaku produsen utama bahan motif ini. Bangsa Jerman mengaku motif ini asli berasal dari Bayern, sementara orang Italia bilang gingham dari Italia Utara. Di Prancis, motif ini disebut “vichy” karena mereka menganggap motif ini telah ada sejak era Victoria. Namun sebenarnya bahan ini diproduksi di negara-negara bekas jajahan Belanda, termasuk diantaranya Indonesia. Lalu diekspor ke Eropa dan Amerika di abad ke-17. Baru di abad ke 18 Amerika mulai memproduksi sendiri. Kata gingham berasal dari bahasa Melayu, yaitu “genggang” yang berarti garis dan lalu diadaptasi oleh Belanda. Motif ini punya beragam makna di berbagai Negara. Di Jepang, bahan kain motif ini digunakan untuk membalut patung saat ada anak yang meninggal. Suku Masai di Afrika telah mengenakan motif ini sejak lama sebagai bagian dari pakaian tradisional. Sementara orang India menyebutnya “gamucha”, yaitu handuk bermotif kotak-kotak untuk mengeringkan tubuh.  Motif Gingham

Warna bahan bermotif gingham yang umum terlihat adalah biru-putih atau merah-putih. Namun seiring perjalanan waktu, warna dan ukuran motifnya semakin beragam dengan bahan yang tak hanya katun tapi juga merambah ke jenis bahan lainnya. Deenay Style mengeluarkan koleksi gingham hitam putih dengan ukuran yang besar. Atau Maima dan Julies yang memilih motif gingham yang lebih kecil. Sementara Luma Dawa menggunakan gingham biru hitam dengan bahan sifon yang lebih tipis untuk bahan outerwear. Meisje by Tantri Havid pun turut memadukan motif gingham dengan warna polos untuk salah satu karyanya. Semua koleksi ini dapat ditemukan di Hijup.com.

Motif ini tadinya hanya digunakan untuk perlengkapan rumah tangga atau mainan anak. Di era 20-an, motif ini mulai banyak dikenakan untuk seragam sekolah. Materialnya yang ringan, harga yang relatif terjangkau, dan warnanya yang cerah membuat gingham popular di saat musim panas tiba. Hollywood punya peranan besar dalam menaikkan citra motif gingham di dunia fesyen. Desainer kostum Gilbert Adrian merancang gaun cantik bermotif gingham untuk Katherine Hepburn di filmnya “The Philadelphia Story” di tahun 40-an. Bisa dibilang ini adalah cikal bakal booming-nya tren motif gingham. Sebelumnya Adrian juga merancang kostum untuk Judy Garland di film legendarisnya “The Wizard of Oz” saat ia memerankan Dorothy Gale. Gaun bermotif gingham itu menjadi sangat ikonik dan terus menjadi tren di dunia fesyen hingga saat ini. Brigitte Bardot bahkan mengenakan gaun bermotif gingham berwana pink di hari pernikahannya dengan actor asal Prancis Jacques Charrier di tahun 1959. Pernikahannya dilangsungkan di Paris dan sempat membuat heboh media di seluruh dunia. Motif gingham pun semakin nge-tren sejak saat itu.