{"id":1381,"date":"2015-07-27T10:33:49","date_gmt":"2015-07-27T10:33:49","guid":{"rendered":"http:\/\/127.0.0.1\/2015\/07\/27\/mosque-dictionary\/"},"modified":"2015-07-27T10:33:49","modified_gmt":"2015-07-27T10:33:49","slug":"mosque-dictionary","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/mosque-dictionary\/","title":{"rendered":"Mosque Dictionary"},"content":{"rendered":"<div class=\"kg-card-markdown\">\n<p><a href=\"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-content\/uploads\/blog\/2015\/07\/mesjid-raya-medan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4537 size-medium\" src=\"https:\/\/assets.hijup.com\/blog\/2015\/07\/mesjid-raya-medan-300x225.jpg\" alt=\"Mosque Dictionary\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/a><\/p>\n<p>Hidup di negara dengan penduduk mayoritas Muslim menjadikan kita akrab dengan istilah-istilah di sekitar musala dan masjid. Yakin sudah cukup tahu? Cek lagi di kamus Laiqa!<\/p>\n<p><strong>I\u2019tikaf<\/strong><\/p>\n<p>Secara bahasa, <em>i\u2019tikaf<\/em> berarti berdiam atau berhenti di suatu tempat. Namun secara bebas, <em>i\u2019tikaf<\/em> bermakna menetap di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. Waktu berdiam di masjid ini dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk dzikir, tadarus, salat, berdoa, dan ibadah lainnya. <em>I\u2019tikaf<\/em> yang paling lazim dilakukan adalah dalam 10 hari terakhir Ramadhan, dengan tujuan mencapai Lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda, \u201c<em>barangsiapa i\u2019tikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan, maka baginya pahala dua haji dan dua umroh<\/em>.\u201d (HR. Baihaqi)<\/p>\n<p>Namun sebenarnya <em>i\u2019tikaf<\/em> bisa juga dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, yaitu di antara dua waktu saalat. Misalnya sejak ashar hingga maghrib. Atau minimal sejumlah durasi satu saalat yang <em>tu\u2019maninah<\/em>. Selama <em>i\u2019tikaf <\/em>sebaiknya tidak meninggalkan masjid, kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak. Seperti diriwatyatkan Aisyah RA, \u201c<em>Dan Beliau (Rasulullah SAW) tidak masuk rumah selama i\u2019tikaf-nya kecuali karena suatu kebutuhan seorang manusia<\/em>.\u201d (HR Bukhari &amp; Muslim). Berbicara atau bercakap-cakap di luar ibadah tetap diperbolehkan, namun tetap harus dibatasi.<\/p>\n<p><strong>Imam<\/strong><\/p>\n<p>Imam secara harfiah merupakan posisi kepemimpinan. Namun ilmuwan agama Islam juga banyak yang menyandang gelar imam, seperti misalnya Imam Maliki, Imam Syafi\u2019i, dan lain-lain. Namun dalam konteks yang lebih informal, imam bisa merujuk pada siapa saja yang memandu jalannya salat berjama\u2019ah.<\/p>\n<p><em>Namun perlu juga dibedakan antara imam, khalifah, dan sultan, kendati ketiganya merupakan pemimpin. Khalifah secara bahasa berarti pengganti atau perwakilan. Karena khalifah merupakan penerus kepemimpinan Rasulullah SAW sesudah Beliau wafat. Khalifah merupakan pemimpin orang-orang mu\u2019min (<\/em><em>amirul mu\u2019minin<\/em><em>) dalam urusan agama maupun pemerintahan. Sedangkan sultan berasal dari kata <\/em><em>sulthah<\/em><em> berarti kekuasaan atau otoritas. Sultan merupakan gelar untuk pemimpin pemerintahan yang berdaulat; raja, kaisar, dan dinasti.<\/em><\/p>\n<p><strong>Khutbah<\/strong><\/p>\n<p>Khutbah secara bahasa berasal dari bahasa Arab <em>khataba<\/em>, yang berarti memberikan nasihat dalam suatu kegiatan ibadah. Antara lain dalam salat, wukuf, dan nikah. Khutbah dilakukan oleh seorang <em>khatib<\/em>, merupakan istilah yang lebih spesifik daripada ceramah. Karena ceramah hanya merupakan pidato secara umum. Saat ini berkembang berbagai media komunikasi massa Islam yang cukup familiar di telinga kita selain khutbah, namun sering rancu satu sama lain. yaitu tabligh dan dakwah.<\/p>\n<p>Tabligh berasal dari bahasa Arab <em>ballagha<\/em> yang berarti memberitahukan dengan lisan. Sedangkan menurut istilah, tabligh adalah kegiatan menyampaikan \u2018pesan\u2019 Allah SWT kepada satu atau banyak orang untuk diketahui dan diamalkan isinya. Tabligh biasanya disampaikan oleh seorang <em>mubaligh<\/em>. Kelebihan seorang <em>mubaligh<\/em> selain kedalaman ilmunya adalah menguasai teknik-teknik retorika yang menarik. Sedangkan dakwah memiliki cakupan yang lebih luas lagi. Dakwah berasal dari kata <em>yad\u2019uu <\/em>berarti memanggil, menyeru, atau mengajak. Sehingga kegiatan apapun, tak hanya ceramah, yang mengajak kepada jalan Allah SWT merupakan dakwah.<\/p>\n<p><strong>Majelis Ta\u2019lim<\/strong><\/p>\n<p>Merupakan gabungan dua kata majelis dan <em>ta\u2019lim<\/em>. Majelis berasal dari bahasa Arab, <em>majalis<\/em> yang berarti tempat duduk. Sedangkan <em>ta\u2019lim<\/em> berarti pengajaran. Secara bebas, majelis ta\u2019lim merujuk pada perkumpulan yang menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Majelis ta\u2019lim biasanya dinaungi oleh satu masjid atau musala, yang beranggotakan warga sekitar. Namun anggota sebuah majelis ta\u2019lim boleh berasal dari mana saja.<\/p>\n<p>Kegiatan majelis ta\u2019lim biasanya diisi dengan ceramah, diskusi keagamaan, tadarus, hingga hiburan seni marawis atau kasidah. Salah satu kegiatan yang paling populer, yaitu pengajian sebenarnya merupakan aktivitas mengkaji Al-Qur\u2019an. Majelis ta\u2019lim ini sifatnya fleksibel dan tidak terikat waktu.<\/p>\n<p><strong>Mihrab<\/strong><\/p>\n<p>Mihrab merupakan ceruk setengah lingkaran di dinding masjid atau musala sebagai penunjuk arah kiblat. Kata <em>mihrab<\/em> sendiri dalam bahasa Arab merujuk pada sebuah ruangan khusus dalam rumah. Misalnya ruang singgasana dalam istana. Pada zaman Rasulullah, <em>mihrab<\/em> adalah ruang salat pribadi Rasulullah di rumah Beliau yang memiliki akses langsung ke masjid.<\/p>\n<p>Pada masa Kekhalifahan Utsman bin Affan, Beliau memerintahkan pembuatan tanda di salah satu dinding masjid di Madinah. Tujuannya agar musafir dapat langsung mengetahui arah kiblat. Tanda ini hanya tanda datar di dinding. Barulah pada kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, Masjid Nabawi direnovasi dengan ceruk di dinding sebagai arah kiblat. <em>Mihrab <\/em>ini yang terus berkembang dan digunakan pada masjid atau musala umumnya hingga sekarang.<\/p>\n<p><strong>Mimbar<\/strong><\/p>\n<p>Mimbar berasal dari kata <em>minbar<\/em> yang berarti mengangkat atau meningkatkan. Mimbar merupakan <em>platform<\/em> yang ditinggikan khusus untuk imam atau khatib menyampaikan ceramah atau doa. Tujuannya agar memudahkan makmum mendengar dan melihat apa yang disampaikan. Mimbar terletak di sebelah kanan <em>mihrab<\/em>.<\/p>\n<p>Mimbar kini menjadi salah satu elemen dekorasi masjid atau musala modern. Sedangkan mimbar yang dipakai Rasulullah hanya berupa <em>platform <\/em>sederhana setinggi tiga langkah. Salah satu mimbar kuno yang masih terjaga dengan baik adalah mimbar di Masjid Uqba, Tunisia dari abad ke-9. Mimbar ini menjulang setinggi sebelas langkah, terbuat dari kayu jati, dan 300 ukiran-pahatan bernilai seni tinggi. Mimbar dewasa ini juga digunakan oleh <em>muadzin<\/em> untuk mengumandangkan adzan, atau orang yang membacakan doa.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup di negara dengan penduduk mayoritas Muslim menjadikan kita akrab dengan istilah-istilah di sekitar musala dan masjid. Yakin sudah cukup tahu? Cek lagi di kamus Laiqa! I\u2019tikaf Secara bahasa, i\u2019tikaf berarti berdiam atau berhenti di suatu tempat. Namun secara bebas, i\u2019tikaf bermakna menetap di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. Waktu berdiam di masjid ini &#8230; <a title=\"Mosque Dictionary\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/mosque-dictionary\/\" aria-label=\"Read more about Mosque Dictionary\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":3761,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[474,4847],"tags":[],"class_list":["post-1381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-inspiration","category-masjid"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hijup.com\/magazine\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}